Tiba-tiba

Tiba-tiba teringat banyak sekali kebaikannya. 
Kesabarannya. 
Kemauannya untuk memahami dan menyesuaikan diri. 
Dan kekurangannya yang tentu saja ada (Sejujurnya aku sendiri merasa begitu konyol telah menyebut itu kekurangan. Jadi aku ingin menyebutnya; kemanusiawiannya). 

Sedangkan aku? 
Harus kuakui.. 
Aku tak jarang mengeluh. 
Menuntut perhatian. 
Punya kebutuhan yang tinggi untuk didengarkan. 
Sebab kupikir, dimana lagi aku harus tumpahkan? 
Di telinga orang lain? 
Di linimasa media sosial? 
Setahuku pamer bukan ciri orang beriman.
Maka aku, setidaknya, berusaha menghindarinya.

Sayang, dengarkan aku.
Berjanji untuk terus bersabar.
Untuk selalu mengalah. 
Pandai memendam kesal dan amarah.
Itu semua bukan keahlianku.

Tapi setelah itu semua... 
Aku berani berjanji. 
Untuk segera menyadari kesalahan. 
Meminta maaf. 
Dan memaafkan tanpa diminta. 

Sebab aku percaya,
menghindari kesalahan tak lebih baik, 
daripada saling memahami dan memaafkan.

Komentar

Postingan Populer